Category Archives

5 Articles

Pengendalian Kualitas

Pengendalian kualitas dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu On-Line Quality Control dan Off-line Quality Control .

  • On-line Quality Control adalah kegiatan pengendalian kualitas yang dilakukan selama proses pabrikasi berlangsung dengan menggunakan Statistical Process Control (SPC). Sifat On-line Quality Control adalah tindakan pengendalian yang reaktif,atau tindakan setelah kegiatan produksi berjalan. Artinya jika produk yang dihasilkan tidak memenuhi spesifikasi yang diharapkan, tindakan perbaikan terhadap proses dilakukan dengan tujuan meminimasi jumlah cacat yang terjadi.
  • Off-Line Quality Control adalah pengendalian kualitas yang dilakukan sebelum proses produksi atau pengendalian kualitas yang bersifat preventif. Dengan tindakan preventif maka kemungkinan adanya cacat produk dan masalah kualitas dapat diatasi sebelum produksi berjalan. Pengurangan pada produk cacat akan mengurangi scrap dan produk gagal, yang akhirnya akan mengurangi pemulangan produk dari konsumen serta dapat mengurangi kerugian. Tujuan dari Off-Line Quality Control adalah untuk mengoptimasi desain produk dan proses dalam rangka mendukung kegiatan On-Line Quality Control.

Secara umum pengendalian kualitas atau Quality Control dapat diartikan sebagai suatu system yang efektif untuk memadukan pengembangan, pemeliharaan dan upaya perbaikan kualitas berbagai kelompok dalam sebuah organisasi agar perekayasaan,produksi dan jasa, serta pemasaran dapat berada pada tingkatan yang paling ekonomis sehingga konsumen mendapat kepuasan penuh. Jadi pengendalian kualitas berarti:

  • Menggunakan pengawasan kualitas sebagai dasar setiap kegiatan
  • Pengendalian biaya,harga dan laba secara terintegrasi
  • Pengendalian jumlah, meliputi jumlah produksi, penjualan dan persediaan serta waktu pengiriman kepada pelanggan.

Pareto dalam Pengendalian Mutu

    Contoh Kasus Pengendalian Mutu di Medical Center “SEHAT’i”

    Dr. Frans Melik, Direktur Pengelola “M. C. SEHAT’i”, baru-baru ini mengadakan survey melalui penyebaran kuesioner, guna menganalisa faktor-faktor penyebab pasien yang semakin menurun karena akibat penurunan ini pendapatan M. C. SEHAT’i juga turun sampai 20% dibandingkan dengan bulan yang sama periode tahun lalu.

Hasil kuesioner dari 1000 responden telah diringkas seperti dibawah ini, untuk memudahkan, terlebih dahulu diberi kode pada masing-masing jawaban responden.

Penyebab

KODE

Obat-obatan di apotek (Klinik) kurang lengkap

A

Dokter ahli (spesialis) tidak lengkap

B

Tidak punya kartu berobat

C

Tidak tahu ada “Klinik Sehat Krina”

D

Pelayanan di Klinik kurang baik

E

Lokasi Klinik jauh dari rumah

F

Ruang tunggu Klinik kurang nyaman

G

Belum tahu prosedur pendaftarannya

H

 

Ringkasan Hasil Kuesioner


 

 

 

 

 

 

 

 

Check Sheet dan Diagram Pareto dari hasil kuesioner tersebut

 

 

    Pengurutan


 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari diagram pareto ditunjukan secara jelas masalah tertinggi sebesar 25% dari seluruh masalah dikarenakan oleh lokasi klinik jauh dari rumah, diagram pareto ditemukan oleh Vilfredo Pareto dan dipopulerkan oleh Joseph M. Juran yang berpendapat bahwa 80% masalah disebabkan oleh 20% penyebab, sehingga bila menyelesaikan 20% penyebab masalah dapat menyelesaikan 80% masalah.

Dalam diagram pareto ini masalah dapat terlihat secara urut dari yang paling tinggi ke yang paling rendah frekuensinya, hal ini memudahkan untuk pengambilan keputusan. Pada kasus ini masalah yang tebanyak frekuensinya adalah karena lokasi klinik yang jauh dari rumah, untuk itu direktur pengelola mungkin dapat mengambil suatu kebijakan atau tindakan perbaikan contohnya dengan cara mempelajari ulang lokasi para pasien dan membuka cabang di lokasi yang dekat dengan rumah pasien, walaupun perlu dipertimbangkan juga cost and benefit-nya penurunan 20% pendapatan dibandingkan meraih 25% pengunjung dengan membuka cabang baru.

Walaupun menurut asas pareto hanya 20% penyebab saja yang menyebabkan 80% masalah, direktur pengelola juga akan bijaksana melihat faktor lainnya, contohnya frekuensi terbanyak kedua adalah ketidaktahuan pengunjung akan prosedur klinik, seharusnya direktur pengelola dapat meninjau metoda pemberitahuan prosedur, direktur pengelola dapat saja sebagai contoh membuat suatu informasi mengenai prosedur klinik yang dipasang di tempat yang mudah dilihat pengunjung, atau juga mewajibkan petugas keamanan secara proaktif melayani pengunjung, misalnya saat membuka pintu pengunjung dapat disapa dengan ramah dan bertanya apakah membutuhkan bantuan atau informasi. Ketidak-tahuan pelanggan dengan adanya klinik krina dapat diselesaikan dengan cara melakukan iklan atau pamflet atau sarana komunikasi massa lainnya supaya masyarakat mengetahui adanya klinik sehat krina. Pelayanan klinik yang kurang baik juga dapat menyebabkan kehilangan pasien, seharusnya pelayanan adalah suatu masalah yang paling murah, direktur pengelola harus mempelajari masalah ini dan mengambil tindakan untuk memperbaiki ini.

Kualitas Jasa

Contoh Kasus

Pada suatu penerbangan, kebetulan terjadi penomoran ganda tempat duduk, artinya dua orang penumpang memegang boarding pass dengan seat number yang sama di kelas ekonomi. Setelah bersitegang dengan awak pesawat, salah satu penumpang mengajukan ide/jalan keluar yaitu : salah satu duduk di kursi bisnis karena tempat duduk di sana masih kosong sebanyak 5 kursi lagi. Pihak awak pesawat tidak mengijinkan dan menyarankan salah satu untuk menempati kursi di deretan terbelakang, penumpang tersebut semula menolak karena harus pindah jauh dari kursi semula, padahal ia harus membawa tas yang cukup berat. Banyak penumpang lain yang berkomentar, “Wah…. kalau awak pesawat tidak pelit kita sudah dari tadi sampai di tujuan …”

    Pendapat tentang fenomena tersebut bila disoroti dari pemahaman:

1.    Customer Focus, Perusahaan penerbangan ini tidak fokus kepada konsumen, seharusnya kepuasan konsumen menjadikan perhatian bagi perusahaan penerbangan ini, konsumen yang kecewa akan menyebarkan ketidakpuasan mereka kepada konsumen lain, seharusnya perusahaan memiliki kebijakan yang menuntut para awak pesawat untuk melakukan pelayanan yang baik kepada konsumen, awak pesawat dapat melakukan keputusan untuk memberikan kursi bisnis yang kosong kepada kedua penumpang tersebut untuk mengurangi kekecewaan mereka akan penomoran ganda, apalagi dilihat dari sisi biaya perusahaan tidak akan dirugikan, perilaku awak pesawat dalam kasus ini merupakan contoh dari kebijakan perusahaan yang tidak fokus kepada konsumen.

2.     Qualitiy is on time Delivery, Penerbangan yang tertunda karena negosiasi yang alot, dan pelayanan penyelesaian masalah oleh awak pesawat sangat merugikan penumpang yang lain yang menginginkan sampai ke tempat tujuan sesuai jadwal, negosiasi yang terlalu lama seharusnya tidak terjadi, dalam menangani suatu masalah konsumen pada kasus di atas, awak pesawat seharusnya dapat dengan cepat memutuskan tindakan yang dapat memuaskan konsumen secepatnya bukannya bersitegang dengan penumpang yang merupakan konsumen. Seharusnya dalam sebuah perusahaan penerbangan para awak pesawat menyadari bahwa core product dari bisnis ini adalah menghantarkan penumpang tepat pada waktunya, para awak mengorbankan waktu penumpang demi sesuatu yang kurang esensial. Kualitas dicapai bila diberikan pada saat yang tepat, seharusnya pelayanan yang prima dari awak pesawat dapat ditunjukan pada saat ini, bila mereka memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen, maka justru saat itu pula konsumen yang tadinya merasa dirugikan justru akan merasa puas dengan pelayanan yang baik.

3.     Quality is Consistency, kasus ini seharusnya tidak terjadi, seharusnya perusahaan membuat suatu sistem yang dapat mengurangi suatu kesalahan penomoran dengan meningkatkan reliabilitas sistem mereka, konsistensi dari prosedur penomoran tiket dapat mengurangi terjadinya masalah ini. Menjaga kualitas suatu perusahaan harus konsisten dalam menerapkan standar yang sudah dibentuk, dalam kasus di atas bila sudah ada prosedur pelayanan terhadap penanganan komplain dari penumpang, awak pesawat tidak perlu ragu-ragu dalam memutuskan untuk memindahkan penumpang ke kursi lain, contohnya dalam suatu penanganan ketidak puasan seorang penumpang, awak pesawat dapat memberikan kursi kelas bisnis apabila kosong, kalau ternyata kursi kelas bisnis penuh, maka awak pesawat dapat memutuskan untuk memberikan service extra seperti makanan spesial atau tambahan, McDonald Singapura contohnya menerapkan standar yang memberikan konsumen paket makanan dengan tempat istimewa bagi pelanggan yang tidak tersenyum saat dilayani, makanannya sama hanya di kotak makanan tersebut mempunyai label “This is a special package because we failed to make you smile“. Pelayanan yang konsisten kepada pelanggan sangat penting dalam menjaga mutu, terutama di saat ini di mana persaingan semakin ketat, pelayanan yang superior kepada pelanggan akan menambah suatu nilai kepuasan.

Produktivitas

Contoh Perhitungan

Jeany saat ini bekerja 12 jam untuk menghasilkan 240 boneka, Ia berpendapat, bila mengganti teknik pewarnaan sekaligus untuk 2 bagian boneka, maka ia mampu menghasilkan 360 boneka. Untuk membuat boneka biaya materialnya $ 3,5 per-boneka, bahan pembantu $60 per-3 hari produksi. Biaya bahan bakar listrik $ 2 per – 6 jam operasi. Upah tenaga kerja $ 10 per-jam

    Dengan pendekatan rumus PRODUKTIVITAS = OUTPUT / jumlah INPUT, di mana input = multifactor, maka perhitingan:

    a.    Produktivitas saat ini

        PRODUKTIVITAS = OUTPUT / jumlah INPUT

    Perincian jumlah INPUT untuk memproduksi 240 boneka dalam 12 jam kerja

Komponen

Biaya

Konsumsi

Total Biaya

Material

$ 3,5 / boneka

240 boneka

$ 840

Bahan Pembantu

$ 60 / 3 hari

1 hari

$ 20

Bahan Bakar Listrik

$ 2 / 6 jam operasi

12 jam operasi

$ 4

Upah

$ 10 / Jam

12 jam

$ 120

Total Input

$ 984

 

        PRODUKTIVITAS     = 240 / 984

                    = 0.24

    b.    Produktivitas bila teknik pengecatan dilakukan

        PRODUKTIVITAS = OUTPUT / jumlah INPUT

    Perincian jumlah INPUT untuk memproduksi 360 boneka dalam 12 jam kerja

Komponen

Biaya

Konsumsi

Total Biaya

Material

$ 3,5 / boneka

360 boneka

$ 1260

Bahan Pembantu

$ 60 / 3 hari

1 hari

$ 20

Bahan Bakar Listrik

$ 2 / 6 jam operasi

12 jam operasi

$ 4

Upah

$ 10 / Jam

12 jam

$ 120

Total Input

$ 1404

 

        PRODUKTIVITAS     = 360 / 1404

                    = 0.26

    Produktifitas meningkat dibandingkan dengan saat ini

 

c.    Produktivitas, bila biaya material bertambah sebesar $0,5/boneka sesudah cat diganti dengan mutu yang lebih baik

Komponen

Biaya

Konsumsi

Total Biaya

Material

$ 4 / boneka

360 boneka

$ 1440

Bahan Pembantu

$ 60 / 3 hari

1 hari

$ 20

Bahan Bakar Listrik

$ 2 / 6 jam operasi

12 jam operasi

$ 4

Upah

$ 10 / Jam

12 jam

$ 120

Total Input

$ 1584

 

    PRODUKTIVITAS     = 360 / 1584

                    = 0.23

    Produktivitas menurun dibandingkan dengan saat ini

 

d.    Mengacu pertanyaan C, berapa harga material maksimal agar tingkat produktivitasnya tidak menurun dibandingakan dengan saat ini


    PRODUKTIVITAS awal     =     PRODUKTIVITAS material baru

                =     

                    =    

                    =    

    240 x ((360X) + 144)        =    360 x 984

    86400X + 34560            =    354240

    86400X                =    354240 – 34560

    86400X                =    319680

    X                    =    

    X                    =    3,7

    Harga material maksimal adalah $3,7 supaya produktifitas tidak menurun, bila harga material di atas $3,7 akan berakibat menurunnya produktivitas

Optimasi Pasangan Mesin dan Operator

Untuk membuat produk “A” diperlukan proses produksi sebagai kombinasi kegiatan Manusia (Operator) dengan Mesin. Kegiatan yang dicatat adalah sebagai berikut :

Operator menghidupkan mesin 1 dan mesin 2

2,5 menit

Operator mengambil produk “A” dari mesin-mesin

5 menit

Operator memeriksa hasil (2 kali)

5 menit/pemeriksaan

Operator membungkus produk

10 menit

Operator membawa produk ke gudang (PP)

10 menit

Operator berjalan dari dan ke mesin 1 & 2

2,5 menit

Operator menunggu mesin memproses bahan sampai produk jadi

120 menit

Operator mengisi dan membawa “log book” ke meja supervisor

10 menit

 

    Pasangan Operator dan Mesin sehingga tercapai pasangan optimal

Pembagian waktu orang dan waktu mesin

 

Kegiatan

Man Time

Machine Time

Operator menghidupkan mesin 1 & mesin 2

2,5 menit

2,5 menit

Operator mengambil produk “A” dari mesin

5 menit

5 menit

Operator memeriksa hasil (2 kali)

5 menit/ pemeriksaan

Operator membungkus produk

10 menit

Operator membawa produk ke gudang (PP)

10 menit

Operator berjalan dari dan ke mesin 1 & 2

2,5 menit

Operator menunggu mesin memproses bahan sampai produk jadi

120 menit

Operator mengisi dan membawa “log book” ke meja supervisor

10 menit

 

Apabila diasumsikan cycle time yang di blok kuning adalah waktu untuk membuat 1 produk dan terjadi hanya 1 kali per-proses produk, tanpa memiliki data proses flow, dan tanpa memperhatikan faktor lainnya, seperti fatique factor, spesialisasi pekerjaan, berbagi fasilitas, dan faktor lainnya, maka dari asumsi ini dapat dihitung cycle time independent masing-masing elemen.

Independent Cylcle Time for Man (waktu operator untuk membuat produk tanpa tergantung dengan mesin),

        ICTMan = 5+10+10+2,5+10 = 37,5 menit

Independent Cycle Time for Machine (waktu mesin bekerja tanpa membutuhkan intervensi operator)

        ICTMach = 120 menit

Karena waktu menunggu adalah waktu yang tidak effisien, maka waktu menunggu akan diminimalkan, diketahui dalam soal waktu menunggu mesin memproses bahan sampai produk jadi adalah 120 menit, sehingga pasangan antara jumlah operator dan mesin adalah:

Jumlah operator : Jumlah mesin     = ICTMan     : ICTMach

                        = 37,5     : 120

                            = 1        : 3,2

    Kesimpulan, pasangan operator dan mesin adalah 1 orang : 3 mesin dengan idle time operator sebesar

    Idle time     = (Jumlah Orang x ICTMach) – (Jumlah Mesin x ICTMan)

        = (1 x 120) – (3 x 37,5)

        = 120 – 112,5

        = 7,5 menit (+ artinya operator idle)

Pasangan 1 operator : 3 mesin masih lebih effisien dibandingkan dengan Pasangan 1 operator : 4 mesin, hitungan idle time adalah :

    Idle time     = (Jumlah Orang x ICTMach) – (Jumlah Mesin x ICTMan)

        = (1x 120) – (4 x 37,5)

        = 120 – 150

        = – 30 menit (- artinya mesin idle)

Di sini terjadi unbalance sehingga mesin harus berhenti 30 menit, pasangan 1 operator : 4 mesin kurang effisien, kecuali bila perhitungan finansial menunjukan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk 30 menit mesin lebih mahal dibandingkan biaya 7,5 menit orang. Perhitungan untuk mesin dapat dihitung dari depresiasi nilai mesin per 30 menit atau cara lain, walaupun demikian pada prakteknya saat terjadinya kenaikan produksi yang tinggi, perusahaan akan mengoptimalkan mesinnya sehingga yang dipergunakan adalah perbandingan 1 operator : 3 mesin, hal ini mungkin terjadi karena (1) mahalnya harga mesin (2) lead time yang lama untuk membeli mesin (3) ketidakpastian volume produksi di masa yang akan datang, sedangkan bila permintaan produksi menurun perusahaan akan memilih cara yang secara perhitungan finansial lebih menguntungkan.